
Ketika kecil, setiap akan tidur Bapak ndongeng wayang. Banyak lakon yang diceritakannya padaku. Dari sekian banyak lakon yang sering diceritakannya, Bapak paling senang dengan tokoh Wrekudhara. Putra ke-dua dari Pandu Dewanata dengan Dewi Kunthi yang lazim disebut Pandawa. Cerita tentang perjuangannya untuk mendapatkan Dewi Arimbi, yang kelak akan memberinya putra yang menjadi raja di Pringgondani yaitu Raden Gatutkaca dikisahkannya dengan fasih dan berapi-api.
Cerita-cerita bapak selalu sederhana dan ilustratif, namun sangat berkesan untukku waktu itu. Sebelum ketertarikanku akan sosok pahlawan direbut oleh sosok Ksatria Baja Hitam, Saint Seiya, atau He Man. Hingga aku dewasapun rasanya sulit untuk kembali menemukan ketertarikan akan cerita-cerita bapak tersebut yang banyak kutemui di berbagai tempat dan media. Wayang hanya menjadi sekedar peninggalan budaya Jawa bagiku. Ya, hanya peninggalan leluhur Jawa saja.
Pada titik tertentu dalam hidupku, aku menemukan kesadaran diri yang semakin jelas. Perlahan namun progresif kutelusuri jatidiriku, kubawa diriku dalam pencarian akan kejawaanku, keislamanku, keluargaku, bahkan keakuanku sendiri. Pada titik ini, aku kembali menemukan cinta kecilku yang hilang. Wayang kembali menarik perhatianku. Sosok Pandawa yang semula digantikan oleh sosok-sosok lain dari layar TV atau dari buku-buku komik mulai kembali mempesonaku. Aku mengagumi Puntadewa karena kepanditaannya, aku mengagumi Wrekudara karena keberanian dan ketangguhannya, aku mengagumi Arjuna karena ketenangan dan sedikit pesonanya. Di luar para Pandawa sosok seperti Gatutkaca, Kresna, Karna, hingga Semar menarik perhatianku.
Terlepas dari asalnya yang memang mengambil dari epos Mahabarata dan Ramayana dari India, lakon wayang Jawa merupakan kebudayaan klasik yang memiliki nilai yang sangat tinggi, sehingga Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Keindahan bentuk wayang kulit yang sangat detail dan kaya akan corak serta keluwesan serta keindahan bahasa penuturannya menjadikan epos India tersebut semakin manusiawai dalam hal sudut pandang salah, benar, dan batas diantara benar dan salah. Sosok Kurawa tidak menjadi pihak yang bisa disamakan misalnya dengan pihak Mganeto dan mutan-mutan pengikutnya dalam cerita X-Men dari Marvel, karena setiap pihak tentu memiliki sudut pandang sendiri terhadap suatu permasalahan. Benturan sudut pandang inilah yang menjadikan Baratayudha Jayabinangun menjadi perang penghabisan bagi kurawa. Dalam ranah politik, intrik dalam Baratayudha sendiri sudah kabur terhadap pihak benar salah dengan berbagi tipu muslihat baik itu dari Kresna maupun Durna dan Sengkuni. Sehingga yang menjadi tolak ukur akhirnya adalah keberpihakan para Dewata di Khayangan sana.
Semakin derasnya arus Globalisasi yang menyeragamkan budaya kedalam budaya global, yang kiblatnya sangat jelas kepada dunia barat khususnya Amerika. Budaya Indonesia seperti wayang salah satunya, menjadi kian terpinggirkan. Tayangan televisi sebagai ujung tombak arus informasi di negeri kita yang minim akan pengenalan dan pendalaman budaya Indonesia sendiri menjadikan generasi muda kita sebagai generasi yang gamang karena arus informasi yang kian cepat menjadi asing terhadap budayanya sendiri. Dan pertanyaan yang terus berputar dibenak saya menunggu untu dimuntahkan adalah, apakah yang harus kita lakukan untuk tetap menjaga budaya kita agar tidak punah?

Kesederhanaan adalah kemewahan, dalam sebuah acara televisi seorang pengusaha dan musisi Setiawan Jodi mengucapkan kalimat sakti itu. Sebuah kalimat yang elegan dan penuh nilai. Elegan karena diucapkan oleh seseorang yang memiliki kharisma seperti beliau, penuh nilai karena diucapkan oleh beliau pula. Seorang milyuner yang pastinya dipisahkan oleh jurang yang dalam dengan kesederhanaan itu sendiri.
Ada kalanya kita membeli sesuatu karena kita memang membutuhkannya, namun ada kalanya pula kita membeli sesuatu karena kita menginginkannya. Sebuah kalimat perbandingan yang menggelitik untuk ditelaah maknanya. Kebutuhan timbul karena naluri manusia untuk mempertahankan hidupnya sedangkan keinginan lebih cenderung pada hasrat dan nafsu. Gaya hidup manusia dewasa ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang menyebabkan prilaku konsumtif dan memelihara keinginan. Gandhi sebenarnya telah memperingatkan kita dengan ucapannya yang terkenal, “ Keinginan adalah sumber penderitan “. Namun pada masa sekarang ini kita tidak bias tidak untuk menolak pendapat Gandhi itu. Sistem dan kepentingan yang lebih besar telah menciptakan doktrin untuk kita, bahkan sejak kita lahir bahwa kadangkala keinginan adalah kebutuhan. Dari sinilah sebenarnya semua bermula. Masalah terbesar yang memaksa kita untuk menerima doktrin tersebut yaitu kita tidak pernah benar-benar tahu apa saja sebenarnya kebutuhan kita.
Manusia hidup bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja, itu yang membedakan kita dengan binatang. Kita diciptakan untuk mengurus bumi ini dengan segala isinya sehingga tidak cukup untuk kita hanya dengan memenuhi kebutuhan saja. Itu adalah pernyataan yang benar. Namun tidak semua manusia memahami sepenuhnya hakikat dari pernyataan tersebut. Mengurus bumi ini dengan segala isinya adalah inti dari pernyataan diatas, bukan pemenuhan kebutuhan. Semakin kita menuruti keinginan-keinginan kita maka kecenderungan yang terjadi adalah kita semakin selfish dan semakin tidak peduli. Apakah salah jika kita memiliki keinginan? Jawabannya adalah tidak! Namun kita hanya perlu sadar akan batasan. Saat kita selalu memiliki keinginan lagi setelah satu keinginan tercapai bahkan lebih dari satu keinginan (bukan kebutuhan) maka terkadang kita perlu mengucapkan kata “tidak” untuk diri kita sendiri.JD

Sabtu Sore. waktu yang diluangkan banyak warga cilacap, khususnya anak mudanya untuk menikmati indahnya panorama Nusakambangan dari pantai Teluk Penyu.

Menggugat diri sendiri karena ketidakmampuan dalam mempertahankan diri adalah suatu sikap yang sulit diterima nalar. sebagian besar orang mungkin memilih untuk beralibi atau mencari kambing hitam. Namun menggugat diri adalah sikap yang sebenarnya diperlukan untuk menumbuhkan kesadaran akan kemampuan yang dimiliki. Berbicara kebangsaan dan nasionalisme di era globalisasi yang memaksa bangsa kita tumbuh sebagai komunitas instan rasanya adalah naïf. Namun jika kita tidak berbicara apa-apa pun adalah sikap yang tidak sepatutnya.
Ketika orang jawa yang notabene adalah bagian dari bangsa Indonesia harus jauh-jauh ke negeri Belanda untuk belajar budayanya sendiri, atau untuk sekedar membaca karya asli dari pujangga lama mereka, kita patut menggugat diri kita sendiri. Globalisasi adalah angin yang ambigu. Satu mata sebagai tantangan untuk memacu diri, namun mata yang lain muncul sebagai angin senja yang melenakan dan berbau addictive. Ada seorang dokter muda cantik dari keluarga kaya yang mengikuti PTT di luar Jawa, disalah satu daerah terpencil yang mengeluh karena tidak ada KFC disana. “Colonel” Harland david Sanders mungkin tersenyum bangga dengan situasi tersebut, namun disisi lain, manajemen seperti milik KFC bisa menjadi “proyek percontohan” yang ilmunya bisa diaplikasikan dalam bisnis lokal hingga menjadi internasional.
Kembali pada masalah penggugatan diri, secara teknis menggugat diri sendiri adalah menanamkan akar ke-Indonesiaan kita pada generasi yang akan datang agar mereka tidak tersesat dalam arus globalisasi kelak. Berharap pada generasi sekarang adalah hal yang lebih sulit daripada mencetak generasi yang akan datang jika memang serius dilakukan. Ketika beberapa hari yang lalu kita dikejutkan oleh meninggalnya Willibrordus Surendra Broto Rendra, saya berpikir benarkah jargon kita : mati satu tumbuh seribu itu riil? Saya segera membayangkan Rendra-rendra lain di masa yang akan datang. Saya berpikir itu hal yang sulit. Namun tak ada pilihan lain untuk menghadapi cepatnya arus Globalisasi selain dengan itu.
Akar ke-Indonesiaan saat ini telah menjadi suatu hal yang bias. Namun menjadi kunci tunggal yang diperlukan. Ini bukan tentang menghafal Pancasila atau UUD 45 yang di masa Orba begitu digalakkan. Tetapi ini tentang memahami jati diri, ini tentang kebanggaan. Bukan kebanggaan akan kuatnya Majapahit dahulu, atau gilang-gemilangnya prestasi atlet bulu tangkis kita tempo dulu, tetapi kebanggaan akan potensi diri. Potensi yang sangat mungkin akan mencapai bahkan melebihi pencapaian kita dulu. Menggugat diri adalah memaksa bangsa kita untuk menjadi bangga terhadap dirinya sendiri. Tanpa kebanggaan itu, kita hanya akan menjadi yang terjajah. Yang terkungkung pemikirannya, dan terdegradasi kulturnya. Dan apabila mereka bertanya apa yang dapat kita banggakan dari diri kita ini, kita hanya harus menjawabnya, bukan dengan kata-kata tetapi dengan pancapaian riil. Kapan itu akan terlaksana? Jawaban itu dapat dicapai dengan satu langkah pertama tadi, yaitu bangga terhadap diri kita sendiri. JD

Ketika menandatangani kesepakatan dengan majalah Life tidak terbersit dalam pikiran Hemingway bahwa kisah yang ditulisnya untuk majalah tersebut akan mengantarkannya meraih dua penghargaan paling diimpikan oleh penulis manapun. Sepasang penghargaan bergengsi yaitu Pulitzer (1953) dan Nobel Sastra (1954). Sebuah Novella (novel pendek) yang membuat terbitan majalah tersebut terjual sebanyak 5,3 juta eksemplar dalam waktu hanya dua hari saja.
Novella fenomenal tersebut berjudul The Old Man and The Sea. Yang bahkan ketika naik cetak sebagai Novel sendiri 8 September 1952 (diterbitkan oleh Charles Scribner’s Sons) mengalami kesalahan penulisan judul. Kesalahan cetak pada sampul awalnya tertulis The Old Men and The Sea. Hemingway sendiri bahkan pada awalnya tidak ingin menerbitkan The Old Man sebagai sebuah novel independen. Ia tadinya berniat menerbitkan The Old Man sebagai bagian dari buku yang ingin ia buat yaitu The Sea Book, namun mengingat kesuksesan yang diraihnya, akhirnya The Old Man diterbitkan sebagai sebuah novel Independen.
The Old Man and The Sea bercerita tentang Santiago, seorang nelayan tua yang telah 84 hari melaut tanpa mendapat ikan. Selain dicemooh banyak nelayan lain Santiago juga sampai ditinggalkan oleh Manolin, pemuda yang selama ini setia sebagai kelasinya. Santiago dengan dibantu Manolin menyiapkan bekal melaut pada dinihari hari ke-85. Ia berangkat melaut sendiri hingga jauh ke tengah laut, tempat yang tidak biasa dicapai nelayan lain bahkan dirinya sekalipun. Ketika akhirnya Santiago mendapat ikan besar seperti yang diharapkannya, ia harus berjuang berhari-hari untuk mendapatkan kesempatan membunuh ikan Merlin tersebut dengan tombaknya yang menyeret kailnya lebih jauh lagi ke tengah lautan. Ketika telah berhasil mengikatkan ikan Merlin besar itu di buritan kapalnya untuk dibawa pulang pun, Santiago masih harus berjuang menghalau Hiu-hiu yang berusaha mencuri si Merlin darinya.
Bagi banyak pembaca saat ini ketika gaya realisme Hemingway telah banyak digunakan pengarang lain, membaca The Old Man dan mengaitkannya dengan Pulitzer bahkan Nobel mengundang pertanyaan tersendiri. Gaya bahasanya sederhana bahkan cenderung Understatement tema ceritanya pun tidak populer. Hemingway adalah salah satu pengarang yang oleh Gertrude Stein disebut sebagai pengarang dalam kelompok Lost Generation (sebuah kelompok ekspatriat Amerika yang hidup di Prancis awal tahun 1920an). Selain Stein yang memperkenalkannya pada “Gerakan Modern Prancis”, mentor Hemingway lainnya adalah Ezra Pound, pendiri Imagism. Gaya bahasa Hemingway tersebut pada akhirnya berpengaruh besar dalam perkembangan fiksi pada abad ke-20 Dan mempengaruhi banyak penulis lain setelahnya seperti Bret Easton Ellis, Chuck Palahniuk, Douglas Coupland, Jack Kerouac, Hunter S. Thompson, J.D Sellinger, Elmore Leonard, hingga pengarang latin Gabriel Garcia Marquez. Bahkan Metallica membuat lagu dengan judul yang sama dengan novel Hemingway For Whom the Bell Toolls.
Minimalis. Pemilihan kalimat yang digunakan Hemingway tersebut mungkin banyak dipengaruhi oleh harian The Kansas City Star tempat dirinya menjadi reporter pada usia 17 tahun atau setamat dari SMA. Gaya penulisan yang khas yaitu menggunakan kalimat yang pendek, alinea pertama yang singkat, bahasa Inggris yang hidup dan bersikap positif merupakan gaya penulisan Hemingway yang juga menjadi pedoman penulisan The Kansas City Star. Lalu apanya yang baru? Keberanian dan kemampuan Hemingway dalam menggunakan pedoman penulisan sebuah berita dalam ranah fiksi adalah hal yang memang patut dihargai. Lalu apa yang bisa kita renungkan dari sebuah karya fiksi jika hanya berupa rangkaian kejadian bukan pergulatan pemikiran tokohnya? Disitulah justru kehebatan Hemingway, meciptakan pergolakan jiwa tokohnya dengan rangkaian perilaku. Disini kita dipaksa berpikir dua kali. Mencari apa yang sebenarnya terjadi dengan tokohnya dan mencari makna dibalik hal itu.
The Old Man and The Sea adalah karya fiksi terakhir yang diselesaikan Hemingway sebelum kematiannya di usianya yang ke-61 pada 2 Juli 1961 dengan menembakan senapan ke kepalanya sendiri. Karya masterpiece lain Hemingway adalah For Whom the Bells Toolls.JD

Mengetengahkan tema nasionalisme yang positif dan persuasif di masa sekarang sepertinya bisa menjadi hal yang tidak populer bahkan naif jika tidak mampu mengeksekusinya dengan baik dan benar, apalagi dalam sebuah karya seni seperti misalnya sebuah lagu. Namun potongan lirik ini mungkin akan mampu menepis semua anggapan diatas:
lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar
…
memudakan tuamu
menjelma dan menjadi indonesia
Album kedua dari band asal Jakarta, Efek Rumah Kaca bertitle Kamar Gelap memang berisi banyak hal yang kontekstual dan relevan dengan apa yang ada disekitar kita sekarang ini. Seperti apa yang diungkapkan Cholil Mahmud sang Vokalis dan pencipta mayoritas lagu-lagu ERK bahwa sebuah lagu atau album bagi dia adalah sebuah dokumentasi dari apa yang terjadi di eranya Sebuah karya yang mampu merefleksikan kondisi suatu masa, dalam hal ini masa dimana sang artist hidup.
Langkah tidak populer dari Cholil Mahmud (Vokalis,Gitaris), Adrian Yunan Faisal(Bassis), dan Akbar Bagus Sudibyo(Drumer) yang mengetengahkan tema-tema yang tidak lazim (bagi pasar industri musik Indonesia) patut mendapatkan standing applaus. Bukan hanya karena keberaniannya tersebut namun juga karena kualitas dari karya-karya mereka. Ketika Iwan Fals berteriak menyuarakan kritikan dan ironi bangsa ini dengan lantang, ERK bergerak dengan kereta yang berbeda. Mereka menyuarakan kritik itu dengan berbisik ditelinga pendengarnya. Efeknya sangat terasa membius membangkitkan intelektualitas pendengarnya dalam menyikapi berbagai hal yang disuarakan melalui nada yang cantik,suara gitar yang ringan,dan refrain yang repetitive.
Melanjutkan kesuksesan Efek Rumah Kaca, album pertama mereka, Kamar Gelap menyuguhkan lagu-lagu dengan tema yang variatif. Lagu yang anthemik Mosi Tidak
Percaya menjadi lagu yang paling keras di album ini. mengagumkan seorang Cholil dalam membicarakan tema politik yang berat menjadi sesederhana Mosi Tidak Percaya. Barisan lagu bertempo cepat masih konstan disuguhkan dalam Banyak Asap Disana yang menggugat arus urbanisasi yang sulit dibendung. Lagu
Kesepian sepertinya akan menjadi part dua dari Desember di album pertama mereka. Mellow dan enak untuk dinyanyikan dengan pemilihan nada serta penulisan lirik yang tidak picisan dan medioker.
Bagi saya pribadi,Jangan Bakar Buku adalah track favorit. Entah mereka sadari atau tidak, lagu dengan tempo pelan dengan nada yang membius adalah kelebihan dan kekuatan ERK, disamping lirik yang jenius tentu saja. Jangan Bakar Buku memenuhi semua kriteria diatas. Hampir tak terbayangkan sebelumnya sebuah band di Indonesia mengangkat tema seperti dalam Jangan Bakar Buku. Liriknya pun tak serumit Hujan Jangan Marah atau Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa. Relatif mudah dicerna dan sederhana, mengingat kapasitas Cholil dalam berolah kata. Kamar Gelap inti dari album ini (berdasarkan judulnya) adalah lagu dengan tema yang paling berat di album ini, saran saya : dengarkan saja dan jangan terlalu di renungkan isinya jika anda sedang malas berpikir atau menggali referensi lebih kanjut.
Dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone Indonesia Cholil pernah berujar bahwa ERK tak mengharamkan lagu cinta dalam karyanya, hanya saja pemilihan kata dan sudut pandangnya yang perlu digali lebih dalam. Laki-laki pemalu menjawab semua itu dengan brilian. Lagu cinta yang tidak picisan. Dari segi aransemen lagu ini adalah lagu terbaik di album ini. Unik dan kontradiktif dengan pesan yang ingin disampaikan. Menunjukan kualitas mereka sebagai musisi. Tak adil rasanya mengulas album Kamar Gelap tanpa melirik lagu Kenakalan Remaja Di Era Informatika, Hits pertama dengan judul lagu yang mungkin terlalu panjang untuk dijadikan hits. Isinya? Sepertinya judulnya sudah sangat spesifik.
Membuka album dengan lagu yang sangat gelap dari segi tema maupun aransemen, Tubuhmu Membiru Tragis menutupnya dengan lagu yang paling positif dan bijak (sarat makna), Balerina. Jika ingin memaknai hidup dari sudut pandang alternatif, Balerina mungkin layak direnungkan. Pemilihan lagu penutup yang sempurna, kita seperti mengambil sesuatu dari album mereka untuk kita simpan di memori kita dan mengendapkannya di nurani kita. Benar-benar lebih dari sekedar mendengar album yang berisi kumpulan lagu hits dengan nada-nada melayu untuk kemudian kita senandungkan di sela-sela aktifitas kita. Satu hal tentang album ini : alternatif yang mencerdaskan! JD
Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) Wilayah Regional III yang digelar di UGM. Kontes Robot Indonesia (KRI) adalah ajang tanding antar perguruan tinggi se-Indonesia di bidang robotic dalam bentuk permainan (game) yang memiliki aturan mainan terntentu (game rules). Asian Broadcasting Union (ABU) merupakan organisasi yang menaungi kegiatan kontes robot ini di tingkat interneasional. Anggota ABU adalah negara-negara se-Asia Pasifik yang biasanya diwakili oleh stasiun nasional masing-masing Negara. Indonesia dalam keanggotaan ini diwakili oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI).
Pada tahun 2009, tema yang diusung adalah “Traveling Together for The Victory drums” atau “Bersama Kita Bisa Meraih Kemenangan”. Tema ini diinspirasi dari cerita rakyat Jepang yaitu budaya Kago yang digunakan untuk membawa petinggi/ tokoh masyarakat dalam menempuh perjalanan menuju ke suatu tempat. Kago ini dibawa oleh dua orang dengan melewati berbagai rintangan alam yang ada di perjalanan, seperti bukit, gunung, dan hutan.
Peraturan KRI
Setiap tim diharuskan membuat satu robot pembawa manual, satu buah robot pembawa otomatis dan satu Automatic Traveler. Berat total keseluruhan robot tidak boleh melebihi 50Kg dan batas tegangan catu daya tidak melebihi 24V.
Kago Zone terbagi dua untuk tim biru dan tim merah, dan dipisahkan oleh pagar kayu setinggi 100mm dan tebal 30mm. Di dalam Kago Zone terdapat Start Zone, Lodge, Check Point, Mountain Pass, dan Woods.
Goal Zone terdiri dari arena bergaris putih dengan tebal 30mm. Di dalam Goal Zone terdapat Drum Zone dimana terdapat Victory Drums yang terdiri dari tiga buah drum atau bedug yang diletakkan secara vertikal.
Selama pertandingan, robot otomatis dan robot manual bekerjasama membawa robot traveler diatas Kago yang diusung. Ketiga robot ini akan melakukan perjalanan melalui beberapa tantangan seperti Mountain Pass (gunung), dan Woods (hutan). Setelah tiba di Goal Zone, robot traveler bertugas memukul tiga buah bedug yang telah tersusun vertikal. Selama perjalanan, Kago dan robot traveler tidak boleh menyentuh lantai.
Tim yang memukul bedug lebih cepat dari lawannya akan dinyatakan sebagai pemenang. Waktu pertandingan adalah tiga menit. Apabila setalah waktu habis tidak ada tim yang berhasil menyelesaikan tugas, maka tim yang paing mendekati Drum Zone dinyatakan sebagai pemenang.
Sedangkan untuk KRCI terbagi menjadi empat divisi, yaitu:
Divisi Senior Robot Beroda (Wheeled)
Robot dengan sistem penggerak roda bertugas untuk mencari lilin di kamar-kamar yang ada dalam lapangan KRCI dan mematikan api dengan menggunakan kipas maupun cairan, kemudian kembali ke Home atau tempat Start semula.
Devisi Senior Robot Berkaki (Legged)
Hampir sama dengan divisi senior beroda (wheeled), hanya saja sistem penggeraknya adalah kaki sehingga robot memiliki kemiripan dengan sistem peggerak yang dimiliki makhluk hidup. Lapangan yang digunakan adalah sama dengan lapangan divisi senior beroda.
Divisi Expert Single
Pada expert single, misi yang harus diselesaikan selain mematikan api lilin yang diletakkan sembarang di suatu kamar adalah robot harus mampu mencari sebuah boneka dan menyelamatkan serta membawa boneka tersebut ke area Home.
Divisi Expert Battle
Divisi ini adalah divisi yang baru digelar pada tahun ini. Misi dari robot ini adalah memenangkan waktu untuk menyelamatkan boneka dan mematikan lilin-lilin yang tersebar di berbagai kamar. Tantangan yang membedakan divisi ini dengan divisi lain adalah adanya dua robot dalam satu arena pertandingan sehingga terdapat kemungkinan bertemunya dua robot yang sedang bertanding tersebut untuk mencapai tujuan masing-masing.BD